Thursday, May 22, 2008

akhlak mulia

" tidak rugi kita berakhlak mulia,
malah Allah lebih-lebih lagi suka,
beradab sopan kita sentiasa,
mari bersama mengamalkannya..."

lagu ini terngiang-ngiang dalam fikiran. dan memang tidak dapat dinafikan bahawa kita memang tidak rugi pabila berakhlak mulia.

Apakah yang dimaksudkan dengan akhlak mulia itu? Akhlak apakah yang dianggap mulia itu?
Saya tak berniat untuk menghuraikan dengan panjang lebar di sini. Mungkin mana-mana sahabat solace dapat membantu jika ada yang berminat untuk menyenaraikan dan mungkin juga menghuraikan contoh-contoh akhlak yang mulia. Tapi yang pasti, jika kita hendak tahu apakah itu akhlak yang mulia, maka lihatlah kepada junjungan mulia kita, nabi Muhammad s.a.w.

Nah, inilah dia contoh agung. Akhlaknya yang terpuji menjadikan baginda seorang manusia yang disanjung tinggi, dihormati dan disegani di tanah arab dahulu. Bahkan sesiapa sahaja pasti akan tertarik kepada baginda dengan hanya memerhatikan akhlaknya. Bacalah akan kisah-kisah sahabat dan lihatlah segala komen yang diberikan mereka tentang nabi Muhammad. Usahkan sahabat, musuh pun pasti tunduk dek akhlaknya yang mulia.

Mengenangkan keperibadiannya ini, hati menjadi amat rindu untuk bertemu dengannya. Inilah dia sebenar-benar role-model kita. Betapa aku amat ingin menjadi sepertinya. Betapa aku amat ingin memiliki akhlak secantiknya. (Pastinya aku juga teramat rindukan keimanan yang seteguh keimanan baginda).

Namun, aku terasa amat jauh dari memiliki akhlak-akhlak yang cantik. Pantang ada kesilapan dah nak melenting. Pantang ada kesulitan dah nak merajuk. Pantang buat baik, nak mengungkit. Pantang ada kecacatan dah nak menuduh. Pendek cerita, pantang ada peluang jer, pasti semua akhlak yang buruk yang terpamir. Oh... betapa hinanya diri ini.

Tapi, aku bertekad aku mahu berubah. Akhlak buruk ingin ku padam dari kamus hidupku. Aku mahu agar aku sudah tidak kenal pun lagi apa itu akhlak yang buruk. Tidak. Ia tidak akan wujud lagi dalam hidupku. Aku mahu berubah. Kerna aku cintakan baginda. Moga kerna cinta ini, Allah akan cinta pula padaku. Dan cinta, bagi aku, bukan hanya untuk ditutur di mulut, bukan hanya meniti di bibir. Tapi cinta, bagi aku, perlu dibuktikan dengan amal.

Aku pasti akan buktikan cintaku pada baginda, sebelum aku dipanggil pulang dan diminta untuk justifikasikan cinta yang ku nyatakan ini(insya-Allah). Dan caranya..pastilah dengan meniru akhlak baginda. Menerapkan segala apa yang kita mampu dari akhlak baginda ke dalam diri kita. Biar akhlak diri Rasulullah juga adalah akhlak diriku. Walau apa jua halangan yang menimpa. Ya, ia susah. tambah lagi dengan kejahilan diri serta kuatnya pengaruh bisikan syaitan dan nafsu. Tapi aku suka yang susah. Kerna setiap mujadah untuk melawan kesusahan itu pasti ada ganjarannya. Biar ia susah, yang pasti, ia tidak mustahil. Aku mahu buktikan, bahwa aku mampu melakukannya. Biar aku yang memulakannya. Biar masyarakat memandang aku pelik. Tapi aku yakin, akhlak yang mulia (dengan niat yang betul)..pasti disertai redha dariNya. dan itulah yang aku mahu. Keredhaan Illahi, syurga Illahi.

Walau apapun, kekuatan itu dari Allah semata. Laa hawla wala quwwata illah billah.

"beradab sopan sesama kita,
beramal soleh juga bertaqwa,
tiada lagi..yang lebih berharga dari mendapat kasih,
Kasih sayangNya.."

-Ya Allah, bentuklah akhlak ku agar ia menjadi sepertimana akhlak kekasihMu nabi Muhammad s.a.w-

1 comment:

Hamba Allah said...

Nice job... Akhlak yg mulia ialah melakukan perbuatan yg selagi tidak bertentangan dgn al-Quran & as-Sunnah..

Posisi Akhlaq di dalam sistem Islam

Islam telah didefinisikan sebagai agama yang diwahyukan Allah kepada utusan-Nya (Muhammad saw.), untuk mengatur hubungan antara manusia ke Penciptanya, ke dirinya sendiri, dan ke manusia lain. Hubungan antara manusia ke Penciptanya meliputi dasar-dasar keyakinan (aqidah) dan ibadah ritual (rukun Islam). Hubungan manusia ke dirinya sendiri meliputi ahlaq, makanan dan pakaian. Sedang hubungan manusia dengan manusia lain meliputi transaksi (muamalat) dan sanksi.

Islam memperhatikan seluruh masalah manusia seutuhnya. Konsekuensinya, Islam juga menjawab masalah-masalah manusia secara utuh. Islam membangun sistemnya di atas landasan spiritual, yakni keyakinan dasar (aqidah). Di atas landasan kesaksian bahwa "Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya" inilah dibangun seluruh zivilisasinya, negaranya, dan hukum-hukumnya.

Meskipun syari'ah Islam menjelaskan secara rinci berbagai sistem Islam (sistem ibadah, mu'amalah, hingga sistem sanksi), namun Islam tidak memberikan bahasan yang rinci tentang "sistem ahlaq". Islam justru menganggap aturan-aturan ahlaq sebagai perintah dan larangan Allah, tanpa menganggap bahwa persoalan ahlaq ini harus mendapat perhatian yang lebih besar daripada aspek lainnya dalam kehidupan. Pembahasan norma-norma ahlaq bahkan tidak sejauh persoalan kehidupan yang lain, bahkan di kitab-kitab fiqh tidak kita jumpai suatu bab tentang ahlaq. Dan para fuqaha serta mujtahidin tidak pernah menggeluti persoalan ahlaq dalam riset dan ijtihad mereka secara mendalam.

Ahlaq tidaklah mempengaruhi bangunan suatu masyarakat dalam bentuk apapun, karena suatu masyarakat dibangun di atas suatu sistem kehidupan, dan sistem ini dipengaruhi oleh pemikiran dan perasaan, yang kembali ditentukan oleh keyakinan dasar. Ahlaq tidak berpengaruh pada pendirian suatu masyarakat, dan bahkan tidak menentukan kebangkitan atau kehancuran masyarakat tersebut. Faktor yang menentukan pada masyarakat bukanlah ahlaq namun kodex masyarakat (al-'Urf) yang lahir dari pandangan hidup masyarakat itu. Dan fakta yang menentukan bangkit atau hancur suatu masyarakat bukanlah ahlaq, namun sistem yang diaplikasikan dan pemikiran serta perasaan yang dibawa masyarakatnya. Sesungguhnya, ahlaq adalah hasil dari pemikiran, perasaan, dan aplikasi suatu sistem.

Karena ahlaq adalah hasil dari aturan-aturan Allah, dan dia akan tumbuh dari dakwah atas aqidah serta aplikasi Islam secara utuh, maka adalah tidak cukup untuk menyerukan ahlaq kepada masyarakat. Menyerukan ahlaq justru menjungkirbalikkan konsep hidup Islam, menjauhkan manusia dari kenyataan dan dari unsur-unsur prinsip suatu masyarakat. Seruan atas ahlaq ini akan memberikan kepuasan batin yang semu atas kesalihan diri pribadi, namun memungkiri makna sesungguhnya dari kemajuan dalam kehidupan. Karena itu jelaslah, bahwa pemutarbalikan seruan Islam menjadi seruan ahlaq, akan membuat orang-orang percaya, bahwa risalah Islam sekedar risalah ahlaq, sehingga sifat intelektual Islam terhapus, dan menjauhkan manusia dari satu-satunya jalan untuk mempraktekkan Islam, yakni dalam suatu bangunan masyarakat dan negara yang islami.

Ketika syari'ah Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yakni tentang ahlaq, ia tidak memformulasikan suatu sistem, seperti yang ada pada ibadah ritual atau muamalah. Namun Islam memusatkan pada pemenuhan suatu nilai-nilai, yang Allah memerintahkannya, seperti kejujuran, ketulusan, rendah hati, menjauhi dengki, dsb. Sifat-sifat ini akan dicapai dengan perintah Allah. Kejujuran adalah perintah etis dari Allah, dan begitulah nilai etisnya akan diukur, sehingga ia bisa disebut sebagai etika. Jika sifat ini adalah hasil dari perbuatan atau interaksi, seperti kesucian dari shalat, atau kejujuran pada saat jual beli, maka nilai ahlaqnya sendiri tidak diwujudkan, karena niat perbuatan itu memang tidak untuk mencapai nilai ahlaq. Shalat dilakukan oleh seorang muslim dengan niat untuk mencapai nilai spiritual, dan dalam jual beli, dia ingin mencapai nilai material; namun dalam hal ini, sekaligus dia mencapai kualitas ahlaq.

Syari'ah telah menetapkan kebiasaan-kebiasaan, yang pelakunya akan dianggap memiliki ahlaq terpuji atau tercela. Orang akan didorong untuk mendapatkan ahlaq terpuji seperti kejujuran, keramahan, kegembiraan, hormat dan patuh pada orang tua, menjaga hubungan keluarga, menolong manusia dari marabahaya, menginginkan kebaikan pada orang lain apa yang juga kita inginkan pada kita dst. Syari'ah menganggap bahwa mendorong hal-hal di atas adalah melaksanakan perintah Allah. Syari'ah juga melarang sifat-sifat tercela seperti berdusta, tidak jujur, dengki, tidak adil, dan sebagainya; dan menyebut hal ini sebagai larangan, apa yang Allah telah melarangnya.

Ahlaq adalah bagian dari syari'ah ini, dan merupakan cabang dari perintah dan larangan, yang harus direalisasikan oleh setiap muslim, untuk menunjukkan ketaatannya pada Islam atau pada perintah-perintah Allah. Seluruh masyarakat akan mendapatkan ahlaq ini dengan realisasi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan Islami. Bila sekali hal ini diraih oleh masyarakat, maka individu di dalam masyarakat itu, mau tidak mau akan menyesuaikan diri pada ahlaq islami tersebut. Yang pasti, ahlaq pada masyarakat tidak bisa diraih hanya dengan seruan padanya, namun dengan realisasi pemikiran dan perasaan. Namun proses tersebut membutuhkan suatu persiapan melalui suatu jama'ah Islam - yang mengadaptasi dalam bentuknya yang lengkap, di mana individu merupakan bagian dari jama'ah dan bukan pribadi-pribadi yang merdeka - untuk menyerukan dakwah Islam yang lengkap kepada masyarakat, serta untuk merealisasikan pemikiran dan perasaan Islam kepada masyarakat. Hasil dari proses ini adalah, bahwa orang-orang akan ber-Islam secara massal dan mereka juga akan mengambil ahlaq Islami secara massal pula. Jelaslah bahwa ahlaq tidak bisa dipisahkan dari perintah-perintah Allah serta aplikasi Islam, dan menunjukkan pentingnya kaum muslimin untuk mendapatkan ahlaq yang terpuji.
Allah swt. telah menjelaskan di banyak surat di Qur'an sifat-sifat yang selayaknya dicapai oleh manusia. Sifat-sifat ini terdiri dari keyakinan dasar (aqidah), pemujaan (ibadah), transaksi (mu'amalah) dan ahlaq. Empat hal ini adalah satu kesatuan dan harus ada bersama-sama.

Dalam surat Makiyyah: Luqman(31): 13-19

Dalam surat Makkiyah: Furqan(25): 63-76

Dalam surat Makkiyah: Al-Israa'(17): 23-38

----
Ayat-ayat ini menunjukkan kesatuan yang lengkap dan menyebutkan berbagai hal, serta menjelaskan sifat-sifat seorang muslim, menunjukkan kepribadian Islam dalam identitasnya yang unik dan luar biasa. Perlu dicatat bahwa ayat-ayat ini, merupakan perintah dan larangan Allah SWT., yang menghubungkan suatu hal dengan ibadah dan lainnya dengan muamalah ataupun ahlaq. Ayat-ayat ini tidak cuma membatasi diri pada nilai-nilai ahlaq, melainkan meliputi seluruhnya. Inilah hal-hal yang membentuk kepribadian Islam. Karena itu, membatasi suatu urusan hanya pada ahlaq adalah tidak mungkin membentuk suatu manusia seutuhnya atau suatu kepribadian Islam. Namun ahlaq harus dibangun di atas landasan spiritual, yakni di atas keyakinan dasar (aqidah Islamiyah), bila ia ingin mencapai tujuan existensinya. Karena itu, seorang muslim jujur tidak karena semata-mata ingin jujur, namun karena Allah telah memerintahkannya. Ahlaq tidak dilakukan semata-mata karena ahlaq, namun karena Allah menetapkannya.
Karena itu, seorang muslim yang berserah diri kepada Allah mestinya otomatis memiliki ahlaq yang terpuji.
Mendapatkan ahlaq terpuji tidaklah dengan harapan mendapatkan keuntungan atau manfaat darinya. Karena itu, asas manfaat harus dipisahkan dari ahlaq. Kita harus memisahkan nilai material atau human dari ahlaq dan tidak mencampuradukkan.

Kesimpulan
Secara singkat bisa disimpulkan bahwa ahlaq bukanlah unsur dasar bagi suatu masyarakat, melainkan lebih ke soal pribadi. Suatu masyarakat tidak bisa diperbaiki dengan ahlaq, namun hanya dengan pemikiran dan perasaan Islami serta dengan aplikasi sistem Islam. Bahkan jika ahlaq merupakan aspek pribadi, ia bukan satu-satunya aspek. Ahlaq harus didampingi dengan aqidah, ibadah dan realisasi seluruh hukum-hukum Islam dalam segala bidang. Karena itu ahlaq yang baik yang dimiliki oleh seseorang yang tidak memiliki aqidah Islam, tidaklah ada harganya, karena orang ini kafir, sedangkan tidak ada dosa yang lebih besar daripada kekafiran. Bahkan jika seseorang memiliki ahlaq yang baik namun tidak melaksanakan ibadah atau mengerjakan mu'amalah sesuai dengan aturan-aturan Islam, ia tidak berhak untuk mendapatkan penghargaan. Karena itu adalah penting, untuk memperhatikan aqidah, ibadah, mu'amalah dan ahlaq secara bersama-sama dalam merubah seorang individu. Adalah sama sekali tidak islami untuk melihat ahlaq secara terpisah dari nilai-nilai yang lain. Bahkan haram hukumnya memperhatikan sesuatu sebelum seseorang meyakini aqidah.